Sambutan Wisudawan Terbaik Universitas UIN STS Jambi dari Prodi PBA FTK IPK 4.0 Prediket Summa Comeluade

• 5 menit baca
Sambutan Wisudawan Terbaik Universitas UIN STS Jambi dari Prodi PBA FTK IPK 4.0 Prediket Summa Comeluade

aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمْدِ للهِ حَمْدًا يَلِيْقُ بِجَلَالِ وَجْهِهِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Yang terhormat Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Yang terhormat Dekan, Biro, dosen-dosen yang luar biasa, (Kondisional Menyesuaikan)

Orang tua dan keluarga tercinta,

Serta sahabat seperjuangan Wisudawan/ti Periode 1 2025 UIN STS Jambi yang saya banggakan.

Hari ini, kita berdiri di ujung sebuah perjalanan panjang yang telah kita tempuh dengan kerja keras, doa, air mata, dan pengorbanan. Tapi sesungguhnya, ini bukanlah garis akhir—melainkan gerbang awal menuju babak baru perjuangan kehidupan.

Dalam suasana syukur yang mendalam ini, izinkan saya mengungkapkan bahwa setiap langkah hingga titik ini bukan semata hasil dari usaha pribadi, tetapi buah dari cinta dan doa yang menyertai dalam diam. Hari ini, terpancar senyuman yang ikhlas dari wajah-wajah kita

Saya berdiri di sini bukan sebagai pribadi paling hebat, tetapi sebagai saksi dari kekuatan doa orang tua yang tak pernah putus, dari bimbingan dosen yang penuh kasih dan kesabaran, serta dari perjalanan bersama rekan-rekan yang saling menggenggam saat dunia terasa berat.

Jika hari ini saya disebut sebagai yang terbaik, maka pujian itu bukan milik saya seorang. Izinkan saya mengembalikannya kepada mereka yang menjadi alas sujudku—kepada Ayah dan Ibu, yang mencintai tanpa syarat, yang dalam diamnya selalu menjadi rumah bagi setiap rasa lelah dan cemas. Kepada para dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, yang bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi menanamkan nilai dan keteladanan. Yang menyalakan lentera ilmu bahkan di tengah keterbatasan. Kepada teman-teman seperjuangan, yang membuktikan bahwa perjalanan ini lebih indah karena kita saling menopang, bukan saling menjatuhkan. yang membuktikan bahwa perbedaan bukanlah jurang, melainkan jembatan untuk saling belajar dan bertumbuh. Dan tentu, kepada diri sendiri, yang meski sering merasa tidak mampu, tidak pernah berhenti mencoba.

حضرة المحترم أسعدكم الله

أنا الراجي المغفرة من ربه أقول إلى أبي الذي تعب في تربيتي، إلى أمي التي سهرت على راحتي، إلى إخوتي الشفِقين الذين ساعدوني طوال حياتي، إلى مشرفي الذي قد علّمني وأرشدني طوال دراستي، إلى أساتذتي ومعلمي الذين أبعدوني من الجهل إلى حلاوة العلم، إلى كل من كان علّمني حرفًا من القرآن، وأرشدني إلى طريق الإيمان، إلى أصدقائي وزملائي الذين صاحبوني في فرحي وحزني، ولكل من كان له فضل عليّ

Aku, yang memohon ampun kepada Rabb-ku, berkata: Untuk ayah tercinta, yang membesarkanku dengan segala daya dan upaya, untuk ibu tercinta, penjaga langkahku dengan sabar dan doa, untuk saudara, guru, dan pembimbing yang menuntunku menuju cahaya, dan untuk yang mengajarkanku satu huruf dari Al-Qur’an — sebagai bekal menuju surga-Nya. untuk sahabat seperjalanan yang hadir dalam tawa dan nestapa — terima kasih, kalian semua adalah anugerah dan cahaya.

Kita telah belajar banyak, bukan hanya dari buku, tapi dari kehidupan kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi sendiri: Dari setiap kegagalan yang mengajarkan kita untuk bangkit. Dari setiap kritik yang melatih hati untuk tetap rendah. Dari setiap ujian yang membentuk karakter dan menguatkan jiwa. Hari ini kita resmi menyandang gelar sarjana. Tapi lebih dari itu—kita adalah penjaga harapan, penjaga nilai, dan agen perubahan. Mari kita buktikan bahwa ilmu yang kita peroleh bukan sekadar untuk mendulang prestasi pribadi, tetapi untuk memberi kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

العلمُ بلا عملٍ كالشجرِ بلا ثمرٍ

Knowledge without charity is like a tree without fruit.

Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.

Ingatkah kalian, saat pertama kali kita mencoba mendaftar ke universitas impian? Kala itu, kita datang dengan harap, pulang dengan kenyataan. Entah karena keterbatasan ekonomi, hasil tes yang tak berpihak, atau rintangan yang tiba-tiba menghadang. Lalu, takdir menggiring langkah kaki ini ke kampus biru, yang dulu mungkin… bukan pilihan utama.

Saat itu, kecewa menyapa — harapan seolah runtuh begitu saja. Tapi siapa sangka, dari keping kecewa lahir cahaya. Ternyata, Allah sudah siapkan kabar gembira yang lebih indah di depan sana. Ada hikmah, ada cinta, ada rencana-Nya yang jauh lebih bijaksana.

“Allah tahu hatimu luka, tapi Ia sedang menyembuhkanmu lewat skenario-Nya. Allah tahu engkau kecewa, tapi Ia ingin engkau mengenal cinta-Nya. Allah tahu engkau lelah, tapi Ia ingin engkau paham makna sabar dan doa. Dan Allah tahu engkau bertanya-tanya — karena di situlah keimanan mulai nyata.”

Lalu berjalanlah waktu. Di kampus inilah, kita mulai menyaksikan mukjizat-mukjizat kecil datang bertamu. Ada di antara kita yang meraih prestasi, UKT yang terbayar tuntas tanpa beban berarti, Beasiswa yang tak pernah disangka sebelumnya, Panggilan ke luar negeri, kontribusi sosial, pengalaman berharga — semua menyapa satu demi satu. Mungkin… semua itu tidak akan terjadi bila dulu kita diterima di kampus tujuan semula.

Tapi hari ini, kita menyadari: Allah tidak pernah salah alamat dalam menetapkan tempat. Teman-teman yang ku banggakan, Kelak, ke mana pun langkah ini berlanjut — studi atau karier — jika jalan yang kita tempuh terasa berbeda dari yang dulu kita targetkan, maka terimalah dengan ikhlas dan lapang. Karena di sanalah Plan Allah sedang bekerja — pelan tapi pasti, penuh makna. Namun jika jalan yang kita cita-citakan benar-benar menjadi nyata, maka jangan lupa bersyukur atas segala bantuan dan bimbingan-Nya.

“Ya Allah, Engkaulah yang menggiring kami hingga sejauh ini. Engkaulah yang membimbing langkah dari gelap hingga berseri. Engkaulah yang memberi lebih dari sekadar mimpi. Kini, kami berdiri — bukan karena hebatnya kami, tapi karena lembutnya rahmat-Mu yang tak henti.”

So, don’t just be proud of your degree. Be proud when we are able to spread benefits. Don’t just wait for change. Be a part of it. Because this world does not only need smart people, but also caring and responsible people. And finally, for anyone who today has ever felt small, underestimated, or close to giving up-Know that today is proof that you can, you are worthy, and you deserve to shine.

Maka, jangan hanya bangga pada gelar. Banggalah ketika kita mampu menebar manfaat. Jangan hanya menunggu perubahan. Jadilah bagian darinya. Karena dunia ini tak hanya butuh orang cerdas, tapi juga orang peduli dan bertanggung jawab. Dan terakhir, untuk siapa pun yang hari ini pernah merasa kecil, diremehkan, atau nyaris menyerah—Ketahuilah bahwa hari ini adalah bukti bahwa kamu bisa, kamu layak, dan kamu pantas untuk bersinar.

Maka hari ini, marilah kita rayakan bersama hari kemenangan ini — dengan sepenuh rasa syukur dan suka cita, bersama keluarga, sahabat, dan setiap jiwa yang pernah hadir menguatkan langkah kita. Biarlah gemuruh tepuk tangan dan sorak bahagia memenuhi auditorium ini sebagai bukti bahwa perjuangan kita tidak pernah sia-sia.

Terima kasih kepada semua yang telah berjalan bersama dalam perjalanan ini. Terima kasih untuk cinta yang diam, untuk doa yang tak terdengar, dan untuk setiap tangan yang pernah menuntun saat kita limbung. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita, menjadikannya penuh berkah, dan menuntun kita untuk menjadi pribadi yang rahmatan lil ‘alamin.

  • (Pantun) –

ممكن كفيت بهذا القدر، أستعفيكم إن وجدتم الأخطأ، وأخيرا نظر ما قال ولا تنظر من قال، ولا تنظرنّ لأثواب على أحد إن رمت تعرفه فانظر إلى الأدب. وبالله التوفيق والعناية، اهدنا الصراط المستقيم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *